Nyai Blorong, Dulu Dan Kini

Foto : Nyai Blorong berwujud ular berkepala manusia seorang perempuan

Misteri, Sabtu (15/02/2020) Lingkaran Media - Seketika nyengir tatkala menseksamai gambar Nyai Blorong (1970) yg dibubuhi kalimat pendek: Sumber Kemadjuan Rakyat. Nyai Blorong mmg hidup dlm alam memori kolektif masyarakat Jawa.

Apakah pesugihan Nyai Blorong betul-betul ada? Yg pasti, jurnalis majalah Kajawen (1932) pernah meliput aneka pesugihan di wewengkon Vorstenlanden. Antara lain, Nyai Blorong, setan gundhul, jaran panolih, bulus jimbung dan lainnya.

Masih periode yg sama, kala Jawa digoyang krisis ekonomi (malaise), komunitas priyayi Kasunanan yg trgabung dlm Narpawandawa bertitah. Jangan sampai kaumnya turut trjebak mencari jalan pintas mendatangi tempat pesugihan Nyai Blorong serta memujanya.

Apakah tempat pesugihan itu ada? Candranegårå dlm Cariyos Purwalelånå (1877) usai melalukan lelånå (perjalanan) menceritakan di sebuah kuburan dijumpai setumpuk batu tua yg dirumai lelembut. Dhemit ini sering memberi pesugihan, yg disebut Nyai Blorong. Dikisahkan, orang terkaya dari laladan Yuwana memperoleh uang di sini.

Lantas, bagaimana rupa Nyai Blorong sendiri? Ula kåyå uwong. Rara Blorong kacariyos ayu, tulis Serat Centhini (1814-1823). Perempuan ini digambarkan begitu cantik, wajahnya tak luput berpaes (tata rias). Perhiasan berjejal di tubuhnya. Mulai ali-ali, suweng, hingga peniti emas terlihat menyala mobyor-mobyor. Sesuai istilah "blorong" merujuk kamus Bausastrå (1939), warna kulitnya lorèk-lorèk irêng karo putih.


Detik ini, boleh saja cerita dan kepercayaan perihal Nyai Blorong melenyap. Tapi, mental menerabas ingin sugih secara instan belum paripurna. Alam irasional msh menjerat manusia di era modern. Model pesugihan sekarang ialah percaya penggandaan uang, jg investasi mendukung kraton abal-abal dng iming-iming bukan surgå, melainkan hidup kaya.

Yg macak jadi ular "Nyai Blorong" kini malah manungså itu sendiri. Oh, wolak-waliking jaman, semoga kita terhindar dari perbuatan keji dan dzolim terhadap diri kita sendiri maupun terhadap orang lain.

Sumber : Heri Priyatmoko
Penulis/wartawan : Miftakh
Editor : Tuti W

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Nyai Blorong, Dulu Dan Kini"

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan bijak, Kami akan membalasnya segera